Saturday, May 7, 2011
Asal Usul Hari Ibu
Thursday, April 14, 2011
TAWASSUL
SOALAN:Assalamu'alaikum Wr. Wb. Habib Mundzir yang saya muliakan... Sejauh mana urgensi tawassul dalam doa itu? Andai memang tidak penting mengapa kita perlu bertawassul? Mohon sekali penjelasan dari Habib yang mulia.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
JAWAPAN HABIB MUNZIR:
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
Kemuliaan Ramadhan, Kesucian Nuzulul Qur'an, Cahaya Keagungan Lailatul Qadr, Keluhuran Badr Alkubra, dan Ijabah pada hari hari shiyam dan qiyam semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
hal itu sunnah dan diajarkan oleh Rasul saw dalam riwayat shahih, maka dosa besar jika kita menafikannya, sebagaimana sabda beliau saw : Barangsiapa yg menolak sunnahku maka ia bukan dari golonganku. (Shahih Bukhari).
kita boleh saja bertawassul atau tidak mau berdoa tanpa tawassul, namun jangan pula meremehkannya, karena meremehkan sunnah Nabi saw adalah dosa besar pula.
sebagaimana kita yg menikah, atau tidak menikah, maka tidak mau menikahpun tidak menjadi dosa, namun jangan meremehkan pernikahan, karena hal itu sunnah, dan meremehkan sunnah adalah dosa besar pula.
mengenai dalil2 tawassul telah saya jelaskan pada buku saya kenalilah akidahmu beserta permasalahn maulid, bid;ah, istighatsah, tawassul dll yg dapat anda download pada kiri web ini.
berikut cuplikan masalah tawassul.
TAWASSUL
Saudara saudaraku masih banyak yg memohon penjelasan mengenai tawassul, waha saudaraku, Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pd Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian berpuluh puluh perantara sampai pada guru kita, yg mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt.
Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).
Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan beliau saw sendiri bersabda : “Barangsiapa yg mendengar adzan lalu menjawab dg doa : “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yg sempurna ini, dan shalat yg dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya Kedudukan yg terpuji sebagaimana yg telah kau janjikan padanya”. Maka halal baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442)
Hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang tawassul pd beliau saw, bahkan orang yg mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw.
Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal perbuatanku yg saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits yg panjang menceritakan tiga orang yg terperangkap di goad an masing masing bertawassul pada amal shalihnya.
Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yg diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dg doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yg melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dg derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).
Riwayat diatas menunjukkan bahwa :
• Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt.
• Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan Allah swt.
• Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar ra : “Dengan Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?, misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra?, namun justru beliau tak mengucapkan nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.
• Para sahabat besar bertawassul pada kemuliaan sahabatnya yg melihat Rasul saw, perhatikan ucapan Umar bin Khattab ra : “dengan pamannya yg melihatnya” (dengan paman nabi saw yg melihat Nabi saw) jelaslah bahwa melihat Rasul saw mempunyai kemuliaan tersendiri disisi Umar bin Khattab ra hingga beliau menyebutnya dalam doanya, maka melihat Rasul saw adalah kemuliaan yg ditawassuli Umar ra dan dikabulkan Allah.
Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yg sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit pada kami, dg izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa beliau saw bertawassul dengan air liur mukminin yg dengan itu dapat menyembuhkan penyakit, dg izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dg izin Allah pula tentunya, juga beliau bertawassul pada tanah, menunjukkan diperbolehkannya bertawassul pada benda mati atau apa saja karena semuanya mengandung kemuliaan Allah swt, seluruh alam ini menyimpan kekuatan Allah dan seluruh alam ini berasal dari cahaya Allah swt.
Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).
Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.
Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan Rasul saw bertawassul pada tanah dan air liur.
Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yg hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yg mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dg doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yg sama dg riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dg ku kesuatu tempat.
Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..??”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279).
Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.
Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yg sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat : Assalamu alaika ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10.050)
Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin, bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya.
Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.
Tak ada pula yg membedakan antara tawassul pada yg hidup dan mati, karena tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur yg tergolong benda) dihadapan Allah, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu sendiri, dan tentunya kemuliaan orang dihadapan Allah tidak sirna dg kematian, justru mereka yg membedakan bolehnya tawassul pada yg hidup saja dan mengharamkan pada yg mati, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yg hidup dan yg mati tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah memuliakannya,
bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dg Allah??, si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah??,
tidak saudaraku.. Demi Allah bukan demikian, Tak ada perbedaan dari yang hidup dan dari yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah swt. Yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah swt dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila memang di kehendaki oleh Allah swt.
Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah swt atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kodrat Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah SWT. Ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.
Sebagai contoh dari bertawassul, seorang pengemis datang pada seorang saudagar kaya dan dermawan, kebetulan almarhumah istri saudagar itu adalah tetangganya, lalu saat ia mengemis pada saudagar itu ia berkata “Berilah hajat saya tuan …saya adalah tetangga dekat amarhumah istri tuan…” maka tentunya si saudagar akan memberi lebih pada si pengemis karena ia tetangga mendiang istrinya, Nah… bukankah hal ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat?, Jelas-jelas saudagar itu akan sangat menghormati atau mengabulkan hajat si pengemis, atau memberinya uang lebih, karena ia menyebut nama orang yang ia cintai walau sudah wafat.
Walaupun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahman Arrahiim, yang maha pemurah dan maha penyantun?, istri saudagar yang telah wafat itu tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang urusan hajat sipengemis pada si saudagar, NAMUN TENTUNYA SI PENGEMIS MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT, entah apa yang membuat pemikiran saudara saudara kita menyempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini.
Saudara saudaraku, boleh berdoa dengan tanpa perantara, boleh berdoa dg perantara, boleh berdoa dg perantara orang shalih, boleh berdoa dg perantara amal kita yg shalih, boleh berdoa dg perantara nabi saw, boleh pada shalihin, boleh pada benda, misalnya “Wahai Allah Demi kemuliaan Ka’bah”, atau “Wahai Allah Demi kemuliaan Arafat”, dlsb, tak ada larangan mengenai ini dari Allah, tidak pula dari Rasul saw, tidak pula dari sahabat, tidak pula dari Tabi’in, tidak pula dari Imam Imam dan muhadditsin, bahkan sebaliknya Allah menganjurkannya, Rasul saw mengajarkannya, Sahabat mengamalkannya, demikian hingga kini.
Walillahittaufiq
mengenai masalah istighatstah, ziarah kubur, bid'ah dll telah saya jelaskan pada buku saya kenalilah akidahmu yg dapat anda download pada kiri web ini.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a'lam
Sumber:http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid&func=view&catid=7&id=23370#23370
SEJARAH RINGKAS WAHABIYYAH
Ajaran Wahhabi diasaskan oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab (1206H) yang mendorong pengikutnya mengkafirkan umat Islam dan menghalalkan darah mereka. Sudah pasti manusia yang lebih mengenali perihal Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab adalah saudara kandungnya dan bapanya sendiri.
Saudara kandungnya Syeikh Sulayman bin ‘Abd al-Wahhab sering memberi peringatan kepada umat Islam di zamannya agar tidak mengikut ajaran baru Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab kerana ajaran itu menghina ulama Islam serta mengkafirkan umat Islam. Sebagai bukti sila rujuk 2 kitab karangan Syeikh Sulayman tersebut: Fasl al-Khitab Fi al-Radd ‘Ala Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab dan al-Sawa‘iq al-Ilahiyyah Fi al-Radd ‘Ala al-Wahhabiyah.
Bapanya juga iaitu ‘Abd al-Wahhab turut memarahi anaknya iaitu Muhammad kerana enggan mempelajari ilmu Islam dan beliau menyatakan kepada para ulama:
“Kamu semua akan melihat keburukan yang dibawa oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab ini”.
Sebagai bukti sila rujuk kitab al-Suhub al-Wabilah ‘Ala Dhara’ih al-Hanabilah cetakan Maktabah Imam Ahmad, muka surat 275. Demikianlah saudara kandungnya sendiri mengingatkan umat Islam agar berwaspada dengan ajaran TAKFIR yang dibawa oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab.
Kenyataan Para Mufti Perihal Wahhabi
Mufti Mazhab Hanbaliyy, Muhammad bin Abdullah bin Hamid al-Najdiyy (1225H) menyatakan dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘Ala Dhara’ih al-Hanabilah, muka surat 276:
“Apabila ulama menjelaskan hujah kepada Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab dan dia tidak mampu menjawabnya serta tidak mampu membunuhnya maka dia akan menghantar seseorang untuk membunuh ulama tersebut kerana dianggap sesiapa yang tidak sependapat dengannya adalah kafir dan halal darahnya untuk dibunuh.”
Mufti Mazhab Syafi‘iyy, Ahmad bin Zaini Dahlan (1304H) yang merupakan tokoh ulama Makkah pada zaman Sultan ‘Abd al-Hamid menyatakan dalam kitabnya al-Durar al-Saniyyah Fi al-Radd ‘Ala al-Wahhabiyyah, muka surat 42:
“Wahhabiyah merupakan golongan pertama yang mengkafirkan umat Islam 600 tahun sebelum mereka dan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab berkata: Aku membawa kepada kamu semua agama yang baru dan manusia selain pengikutku adalah kafir musyrik.”
Sejarah membuktikan Wahhabi telah membunuh keturunan Rasulullah serta menyembelih kanak-kanak kecil di pangkuan ibunya ketikamana mereka mula-mula memasuki Kota Ta’if. Sila rujuk kitab Umara’ al-Balad al-Haram, muka surat 297 – 298, cetakan al-Dar al-Muttahidah Li al-Nasyr.
Tokoh Wahhabi, ‘Abd al-Rahman bin Hasan Al al-Syeikh mengkafirkan golongan al-Asya‘irah yang merupakan pegangan umat Islam di Malaysia dan di negara-negara lain. Rujuk kitabnya Fath al-Majid Syarh Kitab al-Tawhid muka surat 353 cetakan Maktabah Dar al-Salam Riyadh.
Seorang lagi tokoh Wahhabi iaitu Salih bin Fawzan al-Fawzan turut menghukum golongan al-Asya‘irah sebagai sesat aqidah dan bukan Ahli Sunnah Wal Jama‘ah. Rujuk kitabnya Min Masyahir al-Mujaddidin Fi al-Islam, muka surat 32, cetakan Ri’asah ‘Ammah Li al-Ifta’ Riyadh.
Wahhabi bukan sahaja menghukum sesat terhadap ulama Islam bahkan umat Islam yang mengikut mazhab pun turut dikafirkan dan dihukum sebagai musyrik dengan kenyataannya:
“Mengikut mana-mana mazhab adalah syirik.”
Dan Wahhabi ini berani juga mengkafirkan ibu Bani Adam iaitu Sayyidatuna Hawwa dengan kenyataannya:
“Sesungguhnya syirik itu berlaku kepada Hawwa.”
Tokoh Wahhabi tersebut Muhammad al-Qanujiyy antara yang hampir dengan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Rujuk kenyataannya dalam kitabnya al-Din al-Khalis, juzuk 1, muka surat 140 dan 160, cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Maka fahaman ini menjadi kewajipan kepada ulama membongkar untuk diperjelaskan memandangkan ramai orang Islam yang terkeliru dengan propaganda aliran ini. Aliran ini turut bertunjang kepada pemikiran Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Kharijiyy (al-Jawziyy) antaranya:
Membawa konsep bid‘ah yang bercanggah dengan jumhur ulama.
Mempromosi bid‘ah dalam usul (aqidah) dan furu‘.
Percanggahan Dalam Masalah Aqidah:
Membawa kaedah tawhid “Tiga T”; Tawhid Uluhiyyah, Tawhid Rububiyyah dan Tawhid Asma’ Wa Sifat, penyelewengan mereka dalam hal tersebut adalah kerana membeza-bezakan antara Tawhid Uluhiyyah dengan Tawhid Rububiyyah sehingga menghukum kesemua orang kafir juga beriman kepada Allah serta menetapkan Tawhid Asma’ Wa Sifat dengan erti yang bercanggah dengan Ahli Sunnah Wal Jama‘ah sejati bahkan lebih menjerumus kepada aqidah tajsim yang ditolak oleh ulama Islam, pembahagian tawhid mereka tersebut tidak pernah wujud di dalam sejarah ilmu tawhid Ahli Sunnah Wal Jama‘ah tulen.
Membawa fahaman “tajsim” dan “tasybih” iaitu menjerumus kepada menjisimkan Allah dengan mengatakan Allah itu adalah jisim dan menyamakan Allah dengan makhluk seperti menyifatkan Allah dengan sifat mulut, telinga, bayang-bayang dan selainnya dari sifat yang tidak pernah Allah nyatakan dalam al-Qur’an mahupun al-Hadith.
Menolak pengajian sifat dua puluh (20).
Menghukum syirik amalan tawassul, tabarruk, ziarah kubur dan istighathah.
Mengkafirkan dan mem-bid‘ah-kan ramai ulama-ulama yang diperakui kebenarannya di antaranya Imam Abu Hassan al-Asy‘ariyy, perumus aliran Ahli Sunnah Wal Jama‘ah, Imam Nawawiyy dan Imam Ibn Hajar al-‘Asqalaniyy turut dihina oleh kelompok Wahhabi.
Mengelirukan pengertian ta’wil, ta‘til dan tafwid.
Mendakwa dari golongan Salaf.
Mendakwa sesiapa yang mentakzimkan Nabi Muhammad membawa kepada syirik.
Percanggahan Dalam Furu’ Iaitu Cabangan Agama:
Menganggap talqin sebagai bid‘ah sesat.
Mengganggap amalan tahlil, Yasin, kenduri arwah sebagai bid‘ah sesat.
Menganggap qunut Subuh sebagai bid‘ah.
Tidak ada qadha’ bagi solat yang sengaja ditinggalkan.
Menggangap lafaz sayyiduna (taswid) dalam solat sebagai bid‘ah sesat.
Menggerak-gerakkan jari sewaktu tahiyyat awal dan akhir.
Menganggap doa beramai-ramai selepas solat sebagai bid‘ah sesat.
Menyatakan bahawa doa, zikir dan selawat yang tidak ada dalam al-Qur’an dan hadith sebagai bid‘ah sesat. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jumaat sebagai bid‘ah yang haram.
Mengatakan bahawa sedekah pahala tidak sampai.
Menolak sambutan mawlid nabi, bahkan menolak cuti sempena hari mawlid Nabi Muhammad bahkan yang lebih teruk lagi menyamakan sambutan mawlid Nabi dengan perayaan Kristian.
Menolak amalan barzanji/marhaban/berdiri sewaktu selawat. Sufiyyah dianggap sebagai terkesan dengan ajaran Budha dan Nasrani. Sebahagian ulama mereka menyeru agar makam Rasulullah dikeluarkan dari Masjid Nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik.
Menganggap amalan menziarahi makam Rasulullah, para anbiya’, awliya’, ulama dan salihin sebagai bid‘ah sesat lagi syirik. Sering mengkritik aliran Sufi dan kitab-kitab Sufi yang muktabar.
Sumber:http://www.al-azim.com/masjid/index.php
Sunday, May 24, 2009
RAHSIA APRIL FOOL
Kira-kira lebih kurang seribu tahun lalu, Sepanyol berada di bawah kekuasaan Islam yang begitu kuat, sehingga tidak dapat dihancurkan. Sememangnya menjadi tabiat kaum Kuffar iaitu musuh-musuh Islam pada sepanjang masa dan sejarah, tidak akan merasa senang serta tidak akan pernah hilang keinginan mereka untuk menghancurkan Islam. Berbagai-bagai cara dan helah akan dicari dan dilakukan untuk menjatuh serta menghancurkan umat Islam.
Begitu jugalah dengan keadaan di Sepanyol ketika itu. Kaum Kristian terutamanya berharap untuk melenyapkan Islam dari seluruh bahagian Sepanyol. Sedangkan ketika itu umat Islam di beberapa bahagian di Sepanyol seperti Grenada ( Ghornata ), begitu kuat mengamalkan cara hidup berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, yang menjadikan mereka begitu kuat sehingga tidak dapat diganggu gugat.
Beberapa kali mereka cuba menyerang, menganggu serta cuba membersihakan kekuasaan umat Islam tetapi menemui kegagalan. Lalu mereka menghantar pengintip untuk mengetahui asas kekuatan umat islam di sana. Pengintip tersebut berpura-pura mempelajari Islam, beliau menemui satu kekuatan umat Islam iaitu IMAN, dan TAQWA mereka kepada Allah S.W.T.
Maklumat-maklumat tersebut disampaikan kepada musuh-musuh Islam lalu mereka mencari strategi untuk melemahkan umat Islam di Sepanyol dan menghancurkannya. Setelah beberapa kali bersidang, mereka membuat kesimpulan bahawa untuk melemahkan umat Islam, mereka mesti melemahkan Iman dan Taqwa mereka kepada Allah S.W.T. Lalu mereka pun mencuba pelbagai usaha dan cara antaranya mereka mengirimkan alcohol, muzik, dadah ,wanita-wanita untuk mengkhayalkan umat Islam terutamanya kepada para belia.
Strategi tersebut cukup berkesan. Setelah beberapa lama didapati sesetengah umat Islam tidak lagi kuat Iman dan Taqwa mereka, maka mereka sekali lagi merancang untuk menyerang dan memusnahkan umat Islam. Kali ini umat Islam diserang habis-habisan. Pada ketika itu umat Islam tidak lagi berupaya melawan dan mempertahankan diri mereka.
Akhirnya, jatuhlah semua daerah Sepanyol dari penguasaan umat Islam selama 800 tahun kepada Kristian seluruhnya. Daerah terakhir yang dapat dikuasai ialah Grenada.
Kezaliman yang dilakukan kepada umat Islam ketika itu sangat dahsyat. Sekiranya ditemui pasti akan diseksa dan dibunuh. Maka pihak Muslimin terpaksa lari dan menyembunyikan diri. Namun ini belum dapat memuaskan hati mereka.
Lalu mereka menawarkan peluang, iaitu sekiranya penduduk Muslimin ingin selamat, hendaklah mereka berpindah keluar dari Sepanyol dan kapal-kapal akan disediakan. Pada mulanya kaum Muslimin merasa curiga atas tawaran tersebut, tetapi mereka tiada pilihan lain. Tambahan pula mereka mendapati bahawa kapal-kapal untuk mereka melakukan pelayaran telah tiba di pelabuhan dan menanti ketibaan mereka.
Tanggal 1 April, kaum Muslimin keluar beramai-ramai ke pantai dengan hasrat untuk meninggalkan Sepanyol. Pada kesempatan inilah tentera-tentera Sepanyol telah menyerang dan membunuh umat Muslimin keseluruhannya, samada wanita atau kanak-kanak. Bahkan kapal-kapal yang berada di pantai dibakar. Maka hancurlah umat Muslimin dan berjayalah musuh-musuh Islam dalam usaha melakukan ‘pembersihan’ terhadap umat Islam.
Peristiwa berdarah yang menyedihakn ini dirayakan oleh pihak Kristian pada 1 April setiap tahun. Perayaan ini akhirnya dirayakan setiap tahun bukan saja di Sepanyol, malahan juga di seluruh dunia sebagai ‘April Fool’s Day’
Apa yang paling menyedihkan, orang-orang Islam yang jahil juga turut memperingati dan merayakan April Fool’s Day ini tanpa mereka menyedari mereka sebenarnya merayakan ulang tahun pembunuhan saudara seIslam mereka sendiri.
Saturday, March 7, 2009
Sambutan Tahun Baru Masehi Amalan Siapa?
Di Malaysia, tarikh ini juga diraikan juga oleh sebilangan umat. Pada hari tersebut lazimnya akan diadakan majlis keraian yang tidak juga kalahnya dari segi kemeriahannya. Malah di media-media akan dipaparkan hiburan, bakaran bunga api serta pelbagai aktiviti lagi.
Persoalannya di sini, wajarkah sambutan ini? Apa yang disambut sebenarnya? Tahun Baru?... Bagi umat Islam ini bukan tarikhnya. Apakah yang diraikan dan disambut hinggakan begitu beria-ria?
Istilah Tahun Masehi
Perkataan Masehi biasanya dirujuk kepada tarikh tahun menurut Kalender Gregorian. Kata ini berasal daripada bahasa Arab. Awal tahun Masehi ini dirujuk kepada tahun yang dianggap kononnya sebagai tahun kelahiran Nabi Isa Al-Masih, maka kalendar ini ini dinamakan Masihiyyah atau Yesus dari Nazaret.
Manakala, istilah 'Sebelum Masehi ' (SM) dirujuk pada masa sebelum tahun tersebut. Sebahagian besar orang non-kristian biasanya menggunakan singkatan M dan SM. Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mula digunakan di Eropah Barat sejak abad ke-8.
Dalam bahasa Inggeris dan dioergunakan secara internasional, istilah Masehi disebut sebagai 'Anno Domini' (AD) dan Sebelum Masehi disebut sebagai 'Before Christ' (BC).
Asal Hitungan Tarikh Masehi
Sistem penentuan dari perhitungan hari, bermula dari ilmu astrologi iaitu ilmu tentang pergerakan benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang. Ilmu ini berkembang sejak zaman pemerintahan Babylion Kuno, iaitu lebih kurang 2000 SM.
Penentuan hari atau bulan melalui kaedah ini, tidak salah, Malah Allah SWT telah berfirman melalui ayatnya yang bermaksud : "Dia lah yang menjadikan matahari bersinar-sinar (terang-benderang) dan bulan yang bercahaya, dan Dia lah yang menentukan perjalanan tiap-tiap satu itu (berpindah-randah) pada tempat-tempat peredarnnya masing-masing supaya kamu dapat mengetahuibilangan tahun dan kiraan masa. Allah menjelaskan ayat-ayatNya ( tanda-tanda kebesaranNya) satu persatu bagi kaum yang mahu mengetahui ( hikmat sesuatu yang dijadikanNya)". ( Surah Yunus : 5 )
Namun apa yang perlu diteliti adalah penggunaan bulan dan hari yang diguna pakai oleh seluruh dunia sekarang di mana fahaman gereja mempunyaipengaruh yang besar dalam penentuan hari dan bulan, apatah lagi PERAYAAN TAHUN BARU...!
Kalendar Arab Jahiliah
Di zaman pra Islam, kaum Arab menggunakan taqwim yang berasaskan kepada sistem lunar (Qamariah). Walau bagaimanapun, mereka banyak mencampur adukkan perbuatanmelewatkan tarikh atau mengawalkannya sehingga kiraan menjadi begitu keliru.
Golongan Arab Jahiliah Pra Islam telah meminda kalendar yang mereka gunakan itu semata-mata untuk memenuhi kehendak hawa nafsu. Mereka telah menjadikan di dalam satu tahun sebanyak 13 bulan lantas bulan Muharram itu sebagai bulan Safar.
Mereka berasa berat disebabkan oleh musim haji yang ada kalanya berlaku pada musim sejuk. ini menyukarkanagenda perniagaan mereka lantas mereka mengubah bilangan bulan dalam setahun semata-mata dengan tujuan untuk menjatuhkan musim haji pada waktu yang selesa dengan kepentingan diri. Begitu juga mereka sukar hendak menahan diri daripada melakukan gencatan senjata, mengelakkan pertumpahan darah pada bulan Haram yang berturut-turut iaitu Dzulkaedah, Dzulhijjah dan Muharram, lantas perubahan bilangan bulan dilakukan.
Untuk membentulkan kembali penyelewengan yang dilakukan oleh Arab Jahiliah, Allah SWT telah berfirman yang bermaksud : " Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Ia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu ialah Agama yang betul lurus, maka jangalah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar laranganNya); dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya; dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa." ( At-Taubah :36 )
Pemberian Nama Bulan Masehi
Sejak zaman Romawi, iatu sebelum pemerintahan Julias Caesar, mereka membahagikan bulan-bulan dalam 10 bulan sahaja iaitu :
1. Martius (March)
2. Aprilis (April)
3. Maius (May)
4. Junius (June)
5. Quintilis (July)
6. Sextilis (Ogos)
7. September (September)
8. October (October)
9. November (November)
10. December (December)
Seperti kelazimannya, apabila sesuatu perkara yang mempunyai pengaruh gereja, ianya akan mempunyai maksud atau pengertian tertentu yang perlu kita fahami. Begitu juga dengan penentuan bulan-bulan ini di mana pemberian nama ini, ada kaitannya dengan DEWA bangsa Romawi.
Bulan Martius (March) mengambil nama Dewa Mars, manakal nama bulan Aprilis (April) diambil dari kata Aperiri, sebutan untuk cuaca yang nyaman di dalam musim panas. Seterusnya bulan Maius (May) mengambil nama Maia dan bulan Junius (June) mengambil nama dewa Juno.
Sedangkan nama-nama Quintrilis, September, October, November dan December adalah nama yang diberikan berdasarkan angka urutan susunan bulan. Quntrilis bererti bulan kelima, Sextilis bulan keenam, September bulan ketujuh, October bulan kelapan, November bulan kesembilan dan December bulan kesepuluh.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan ini, di dapati bahawa suatu ketika dahulu permulaan tarikh (awal tahun) jatuh pada bulan Mac (March) Hal ini berkait rapat dengan tata kehidupan masyarakat di Eropah.
Bulan March (tepatnya 21 March) adalah permulaan musim panas. Awal musimpanas disambut dengan perayaan sukacita kerana dipandang sebagai mulanya kehidupan baru, setelah 3 bulan mengalami nusim dingin . Jadi kedatangan musim panas ini dirayakan sebagai PERAYAAN TAHUN BARU setiap tahun.
Setelah beberapa ketika bulan yang hanya terdiri dari 10 bulan itu kemudiannya di tambah menjadi 12 bulan, tambahan 2 bulan iaitu Januarius (January) dan Februarius (February).
Januarius adalah nama yang berasl dari nama Dewa Janus, dewa ini berwajah dua, menghadap ke depan dan ke belakang, hingga kononya dapat memandang masa lalu dan masa depan, sebab itu Januarius ditetapkan sebagai bulan pertama.
Februarius diambil nama sempena dari upacara Februa, iaitu upacara bagi menyambut kedatangan musim panas. Dengan ini Februarius menjadi bulan kedua, sebelum musim panas datang pada bulan March.
Begitu juga bulan-bulan yang terdahulu, diletak dalam tarikh baru menjadi tergeser dua bulan dan susunannya menjadi Januarius, Februarius, Martius, Aprilis, Maius, Junius, Quintrilis, Sextilis, September, October, November dan December.
Kesimpulannya, tarikh tahun Masehi yang dipakai secara internasional sekarang ini ternyata berdasarkan perhitungan astrologi Mesopotamia yang dikembangkan oleh ahli-ahli astronomi para penyembah dewa-dewa. Maka nama-nama bulan pun diguna pakai sempena nama dewa dan tokoh pencetus tarikh Kalendar Masehi.
Tradisi Sambutan Tahun Baru Masehi
Tahun baru masehi pertama kali dirayakan iaitu pada zaman kaisar Romawi, Julius Caesar (45SM), untuk menghormati Dewa Janus (dewa yang digambarkan bermuka dua, merupakan Dewa pintu dan semua permulaan)
Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan disebarkan ke Eropah (abad permulaan Masehi). Seiring dengn munculnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan "SUCI".
Cara Sambutan
Orang Romawi kuno menyambut tahun baru dengan saling memberikan hadiah; iaitu potongan dahan pohon suci untuk merayakan pengantian tahun. Kini, mereka memberikan kacang atau syiling lapis emas dengan gambar Janus.
Di Brazil, pada tengah malam setiap 1 Januari, sebahagian masyarakat Brazil berbondong-bondong menuju ke pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menabu bunga di laut, menanam tanaman atau buah-buahan seperti mangga, betik, tembikai dan lain-lainnya di dalam pasir pantai sebagai penghormatan terhadap Dewa Lemanja iaitu dewa laut yang terkenal dalam lagenda negara tersebut.
Manakala menurut kepercayaan beberapa masyarakat Jerman pula, jika mereka memakan sisa hidangan pesta perayaan "New Year's Eve" pada 1 Januari, mereka percaya bahawa mereka tidak akan kekurangan makanan selama setahun penuh.
Kesimpulannya, bahawa beberapa masyarakat di dunia ini merayakan tahun baru atas kepercayaan dan adat kebudayaan masing-masing. maka sebagai seorang yang beragama Islam, di manakah kewajarannya untuk kita meraikan tahun baru apabila tibanya 1 Januari setiap tahun.
Perayaan ini tidak disebut dalam Al-Quran dan Hadis, tiada dalam adat dan kebudayaan kita, jadi mengapakah kita perlu menghabiskan wang ringgit untuk menyambutnya?
Lebih bahaya lagi sekiranya kita melihat dari sudut akidah. Orang barat (Rom) meraikannya kerana menghormati Dewa Janus. Sebagai umat Islam apakah yang perlu kita hormati pada tarikh tersebut?.
Ini merupakan jarum sulit dan dakyah barat yang telah berjaya meresap ke dalam budaya kita, hinggakan sambutan ini menjadi satu kemestian yang perlu diraikan setiap tahun.
Wallahua'lam...
Friday, March 14, 2008
HALANGAN-HALANGAN TAFFAKUR (BERFIKIR) DALAM ISLAM
PENDAHULUAN
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah S.W.T yang dikurniakan dengan nikmat akal untuk berfikir , menaakul, meneliti, memerhati serta menganalisa setiap kebesaran Allah S.W.T serta berfungsi dalam kehidupan seharian bagi menyelesaikan pelbagai masalah yang dihadapi oleh umat manusia.
Tanpa akal manusia tidak mungkin mampu untuk mentadbir alam semesta ini, sebagaimana haiwan yang hanya mampu menumpang tinggal di muka bumi ini tanpa perlu memikirkan bagaimana cara untuk mentadbirnya.
Al-Quran menggariskan beberapa bidang asas yang perlu dijadikan sasaran objek berfikir, iaitu berfikir tentang ciptaan Allah dengan merenung dan menaakul setiap ciptaan-Nya yang terdapat di seluruh alam semesta ini. Selain itu juga kita diminta untuk berfikir tentang tanda-tanda kekuasaan Allah melalui fenomena alam seperti pertukaran siang dan malam, hujan, ribut, banjir, gempa bumi dan sebagainya.
Namun begitu terdapat beberapa halangan yang bersifat negatif yang menghalang proses pemikiran ini terjadi dengan baik dan sempurna.
DEFINISI
PENGHALANG/HALANGAN : Aral, gangguan, rintangan ( Alat atau orang ), penghalang, penyekat dan perintang. (Kamus Dewan, Edisi 3, halaman : 430)
TAFFAKUR : berasal dari istilah Arab ‘Al-Fikr ( ألفكر )’, iaitu merujuk kepada aktiviti penggunaan akal atau minda manusia dalam konteks untuk mengenal, memahami dan menyelesaikan sesuatu perkara yang logical dan rasional.
BERFIKIR : menggunakan akal untuk menyelesaikan sesuatu, mempertimbangkan (Kamus Dewan, Edisi 3, halaman : 351).
Rumusan Definisi Tajuk: Suatu keadaan yang menyekat berlakunya aktiviti berfikir untuk menyelesaikan sesuatu perkara yang berlaku.
HALANGAN-HALANGAN TAFFAKUR (BERFIKIR)
1. Jahil ( Mengabaikan dan tidak mahu menerima kebenaran)
111. Dan jika Kami turunkan malaikat pun kepada mereka, dan orang-orang Yang mati (hidup semula lalu) berkata-kata Dengan mereka, dan Kami himpunkan pula tiap-tiap sesuatu di hadapan mereka (untuk menjadi saksi tentang kebenaran Nabi Muhammad), nescaya mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika dikehendaki Allah; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (hakikat Yang sebenar). (al-An’am: 111)
138. Dan Kami bawakan Bani Israil ke sebarang laut (Merah) itu lalu mereka sampai kepada suatu kaum Yang sedang menyembah berhala-berhalanya. (Melihatkan Yang demikian) mereka (Bani Israil) berkata: "Wahai Musa buatlah untuk Kami suatu Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan". Nabi Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum Yang jahil. (Al-A’araf : 138)
- Iaitu sikap orang-orang yang Jahil, tidak mahu menerima kebenaran, meskipun telah nyata dihadapan mereka, mereka menolak dan mengabaikannnya dan tidak mahu cuba mengambil jalan untuk berfikir akan kebenaran tersebut. Meskipun segala kebenaran yang telah ditunjukkan dengan jelas oleh Allah S.W.T langsung tidak diendahkan mereka. Sedangkan telah nyata Kerasulan yang dianugerahkan oleh Allah terhadap Rasullullah S.A.W dan Nabi Musa, mereka masih lagi tidak mahu berfikir malahan meminta yang lain daripada kebenaran yang berada di depan mata mereka.
2. Al-I’arad (Berpaling daripada kebenaran)
110. Dan Kami palingkan hati mereka dan pemandangan mereka sebagaimana mereka telah tidak (mahu) beriman kepada (ayat-ayat Kami ketika datang kepada mereka) pada awal mulanya, dan Kami biarkan mereka meraba-raba di Dalam kesesatannya Dengan bingung. (Al-An’am : 110)
5. Dan (ingatlah peristiwa) ketika Nabi Musa berkata kepada kaumnya: " Wahai kaumku! mengapa kamu menyakiti daku, sedang kamu mengetahui Bahawa Sesungguhnya Aku ini pesuruh Allah kepada kamu?" maka ketika mereka menyeleweng (dari kebenaran Yang mereka sedia mengetahuinya), Allah selewengkan hati mereka (dari mendapat hidayah petunjuk); dan sememangnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada kaum Yang fasik - derhaka.(As-Saff : 5)
- Bagi mereka yang cuba berpaling daripada kebenaran yang telah dipaparkan dengan jelas oleh Allah, dan bertujuan untuk menidakkan kebenaran itu, mereka ini akan dipalingkan dan diselewengkan hati-hati mereka dari segala kebenaran, kesesatan akan terus menarik mereka untuk terus tenggelam dan hilang punca buat selamanya. Lalu mereka ini digolongkan oleh Allah sebagai hamba-hamba yang derhaka, tidak layak untuk mendapat petunjuk kerana sikap mereka yang berpaling daripada petunjuk Allah pada peringkat awal lagi.
3. Taqlid dan Ta’assub (Taklid Buta dan Pegangan Ekstrim Tradisi)
170. Dan apabila dikatakan kepada mereka" Turutlah akan apa Yang telah diturunkan oleh Allah" mereka menjawab: "(Tidak), bahkan Kami (hanya) menurut apa Yang Kami dapati datuk nenek Kami melakukannya". Patutkah (Mereka menurutnya) sekalipun datuk neneknya itu tidak faham sesuatu (Apa pun tentang perkara-perkara ugama), dan tidak pula mendapat petunjuk hidayah (dari Allah)? (Al-Baqarah : 170)
- Proses berfikir secara waras dan matang dalam mencari dan mendapatkan kebenaran turut terhalang dengan sikap Taklid Buta dan Pegangan Ekstrim Tradisi ini. Ini banyak berlaku dalam banyak masyarakat termasuklah masyarakat Melayu yang Beragama Islam sendiri. Mereka terlalu berpegang teguh kepada adat tradisi yang diwarisi daripada nenek moyang mereka, tanpa usul periksa dan berfikir mereka mengambilnya dengan penuh yakin dan redha akan kebenaran kepercayaan tersebut tanpa menilai sama ada ianya sesuai atau bertentangan dengan Islam.
- Sekiranya ada pihak yang cuba untuk menegur perbuatan mereka ini, pastinya akan dianggap sebagai musuh yang cuba untuk merosakkan hidup mereka dan akan dilaknati oleh nenek moyang mereka. Berpegang teguh dengan ungkapan ‘Biar mati anak jangan mati adat’ menjadikan mereka terus tegar menurut amalan dan kepercayaan ini.
- Tanpa mereka sedar atau tidak, ianya meletakkan mereka sebagai seorang yang rosak akidahnya, iaitu boleh dikatakan sebagai Murtad, tanpa mereka sedari. Ini terjadi kerana mereka lebih percayakan kepada ajaran dan pegangan nenek moyang mereka, dan akan mendapat bala bencana sekiranya tidak menurutinya. Jelas di sini, mereka yakin bahawa ada kuasa selain Allah yang dapat membinasakan mereka.
4. Hawa Nafsu
119. … dan Sesungguhnya kebanyakan manusia hendak menyesatkan Dengan hawa nafsu mereka Dengan tidak berdasarkan pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia lah Yang lebih mengetahui akan orang-orang Yang melampaui batas. (Al-An’am : 119)
43. Nampakkah (Wahai Muhammad) keburukan keadaan orang Yang menjadikan hawa nafsunya: Tuhan Yang dipuja lagi ditaati? maka Dapatkah Engkau menjadi Pengawas Yang menjaganya jangan sesat? (Al-Furqan : 43)
50. Kemudian, kalau mereka tidak dapat menerima cabaranmu (Wahai Muhammad), maka ketahuilah, Sesungguhnya mereka hanyalah menurut hawa nafsu mereka; dan tidak ada Yang lebih sesat daripada orang Yang menurut hawa nafsunya Dengan tidak berdasarkan hidayah petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak memberi pimpinan kepada kaum Yang zalim (yang berdegil Dalam keingkarannya). (Al-Qasas : 50)
- Hawa nafsu mendorong manusia untuk mendapatkan keseronokan, tanpa menggunakan akal untuk berfikir pastinya manusia akan melakukan apa sahaja asalkan hawa nafsu mereka dapat dipenuhi. Ia biasanya melibatkan kuasa, harta dan wanita.
- Bagi dapat memenuhkan kehendak bagi memiliki tiga perkara ini, manusia pasti akan sanggup mengadaikan keimanan dan maruah diri, asalkan mereka puas hati dengan apa yang mereka hajati tercapai dengan dorongan nafsu yang pastinya didalangi oleh kejahatan syaitan.
- Apabila bertuhankan nafsu, maka mereka pasti dijauhkan oleh Allah S.W.T dari mendapat petunjuk dan rahmatNya baik di dunia apalagi di akhirat. Ini kerana nafsu telah memperkudakan mereka untuk menjadi khadam mereka.
5. Takabbur (Bermegah Diri/Bongkak)
Dalam Al-Quran terdapat sekurang-kurangnya 60 ayat yang menyentuh dan mengandungi amaran daripada Allah S.W.T tentang keburukan sifat Takabbur ini. Kita lihat dua daripadanya :
146. Aku akan memalingkan (hati) orang-orang Yang sombong takbur di muka bumi Dengan tiada alasan Yang benar dari (memahami) ayat-ayatKu (yang menunjukkan kekuasaanKu); dan mereka (yang bersifat demikian) jika mereka melihat sebarang keterangan (bukti), mereka tidak beriman kepadaNya, dan jika mereka melihat jalan Yang (membawa kepada) hidayah petunjuk, mereka tidak mengambilnya sebagai jalan Yang dilalui. dan sebaliknya jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus mengambilnya sebagai jalan Yang dilalui. Yang demikian itu, kerana mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka sentiasa lalai daripadanya.
(Al-A’raf :146)
35. "(Iaitu) orang-orang Yang membantah mengenai maksud ayat-ayat Allah Dengan tidak ada sebarang Bukti Yang sampai kepada mereka (dari pihak Yang diakui benarnya). (Bantahan Yang demikian) besar kebenciannya dan kemurkaannya di sisi hukum Allah dan di sisi bawaan orang-orang Yang beriman. Demikianlah Allah meteraikan atas hati tiap-tiap orang Yang sombong takbur, lagi bermaharajalela pencerobohannya!" (Al-Mu’min /Ghafir : 35)
- Sifat Takabbur, amat dibenci oleh Allah S.W.T ini kerana, hanyalah Allah sahaja yang layak memiliki sifat ini. Seandainya manusia sebagai makhluk ciptaannya bersikap Takabbur, sama seperti mereka ingin mencabar Allah dengan mengambil apa yang tidak layak bagi diri mereka.
- Allah sekali-kali tidak akan memberikan petunjuk dan hidayahNya bagi mereka yang cenderung mengambil apa yang sepatutnya bukan milik mereka.
6. Nifaq (Berpura-pura)
Merekalah Yang mengatakan (kepada orang-orang Islam di Madinah Yang menolong Rasulullah dan orang-orang Muhajirin): "Janganlah kamu membelanjakan harta kamu kepada orang-orang Yang ada bersama-sama Rasulullah supaya mereka bersurai (meninggalkannya)". padahal bagi Allah jualah perbendaharaan langit dan bumi, (tiada sesiapapun Yang dapat memberi atau menyekat sebarang pemberian melainkan Dengan kehendakNya); akan tetapi orang-orang Yang munafik itu tidak memahami (hakikat Yang sebenarnya). ( Al-Munafiqun : 7 )
- Sikap Nifaq atau berpura-pura ini, merupakan sikap tidak jujur bukan sekadar menjadi pendusta kepada agama Islam, malah menyediakan tempat yang terdahsyat azabnya dalam neraka Allah.
- Golongan ini dikenali sebagai Munafik, iaitu pendusta agama. Mereka berpura-pura beriman dengan Allah, Rasul dan segala ajaran Islam, tetapi didalam hati mereka hanyalah sekadar berpura-pura semata-mata tanpa ada sedikitpun kekesalan di hati malahan bangga dengan apa yang mereka perlakukan, kerana menganggap bahawa Allah dan rasulNya tidak tau akan perbuatan mereka ini.
7. Juhud (Mengingkari)
13. Maka ketika keterangan-keterangan mukjizat Kami sampai kepada Firaun dan kaumnya Dengan jelas nyata, berkatalah mereka: " ini adalah sihir Yang terang nyata!"
14. Dan mereka mengingkarinya secara zalim dan sombong angkuh sedang hati mereka meyakini kebenarannya. oleh itu, lihatlah Bagaimana kesudahan orang-orang Yang melakukan kerosakan.
(An-Naml : 13-14)
- Mereka yang mengingkari tentang kekuasaan Allah Taala, kerana keangkuhan mereka yang merasakan mereka tidak perlu patuh ekpada Allah Taala, dan tak memerlukan Allah dalam kehidupan mereka, sedangkan mereka sebenar silap dan jauh tersesat dari kebenaran.
- Hidayah dan petunjuk Allah juga tidak akan sampai kepada mereka. Mereka akan sesat dan semakin sesat.
8. Ta’wil dan Hads (Prasangka dan Ramalan)
116. Dan jika Engkau menurut kebanyakan orang Yang ada di muka bumi, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah; tiadalah Yang mereka turut melainkan sangkaan semata-mata, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta. (Al-An’am : 116)
- Perasaan syak wasangka atau prasangka ini, mudah menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan, ini kerana mereka sekadar bersangka buruk terhadap sesuatu perkara tanpa mengkaji terlebih dahulu kesahihannya.
- Apabila wujudnya prasangka atau ramalan, maka mereka akan terus menjadikan ianya sebagai satu bahan untuk berhujah dan akan cuba untuk membuktikan bahawa prasangka atau ramalan mereka itu sebagai satu kebenaran.
- Mereka mengadakan sesuatu yang sememangnya tiada atau menjadikan sesuatu yang salah itu seolah2 satu kebenaran yang tepat seolah-olah mereka merupakan pihak yang benar.
9. Takhdhib (Mendustakan Ayat-ayat Allah)
11.Keadaan orang-orang kafir itu) sama seperti keadaan kaum Firaun, dan orang-orang Yang terdahulu dari mereka; mereka mendustakan ayat-ayat keterangan kami, lalu Allah menyeksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. dan (ingatlah), Allah Maha berat azab seksaNya. (Ali-‘Imran : 11)
21. Dan siapakah lagi Yang lebih aniaya dari orang Yang mengada-adakan perkara-perkara Yang dusta terhadap Allah, atau Yang mendustakan ayat-ayat keteranganNya? Sesungguhnya orang-orang Yang zalim itu tidak akan berjaya. (Al-An’am : 21)
36. Dan orang-orang Yang mendustakan ayat-ayat (perintah) Kami dan Yang angkuh (merasa dirinya lebih) daripada mematuhinya, merekalah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’araf : 36)
- Pendustaan terhadap ayat-ayat Allah dengan menafikan kesahihan dan kekuasaan serta amaran, suruhan dan larangan Allah seperti yang telah diturunkan oleh Allah di dalam Al-Quran yang sewajibnya dijadikan panduan oleh umat manusia seluruhnya.
- Apabila ayat-ayat Allah didustakan maka pelbagai azab akan ditimpakan Allah supaya mereka sedar akan kesilapan mereka, teapi tetap tidak mahu berfikir dan mengambil iktibar maka akan dibalas oleh Allah dengan kekal di dalam neraka buat selamanya.
- Setiap ayat yang diturunkan meminta manusia mengkaji dan memikirkan apakah rahsia yang terkandung disebalik ayat-ayat tersebut. Apabila sesuatu ayat itu ditolak kerana tidak bersesuaian dengan kehendak dan kemahuan hati mereka, ianya akan diabaikan agar mereka terlepas daripadanya. Sedangkan mereka tidak dapat lari daripada ketentuan Allah melalui ayat-ayat yang diturunkan.
- Seperti undang-undang yang ditetapkan oleh Allah buat umat manusia, ianya wajib dipatuhi kerana manusia itu dicipta oleh Allah, hanya Allah yang mengetahui apakah yang terbaik dan bertepatan dengan keperluan ciptaanNya. Sebagaimana sebuah peralatan elektrik dicipta, ianya turut dibekalkan dengan manual sebagai panduan penggunaannya, sekiranya mengikut aturan manual pastinya peralatan itu dapat berfungsi sebagaimana yang sepatutnya. Tetapi sekiranya manual yang dibekalkan diabaikan dan mahu alat itu berfungsi mengikut kemahuan mereka pastilah ianya akan mudah rosak dan tidak dapat berfungsi sebaik mungkin.
- Itulah jua perumpaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, mereka juga tidak mahu berfikir kelebihan arahan-arahan yang diturunkan oleh Allah kepada mereka sehingga mereka mulalah mencipta sesuatu yang mereka anggap sepadan dan sesuai dengan kehendak mereka untuk mereka ikuti, padahal ianya makin membawa mereka ke arah kepincangan.
10. Peranan Syaitan Dalam Mempengaruhi Persepsi Manusia
168. Wahai sekalian manusia! makanlah dari apa Yang ada di bumi Yang halal lagi baik, dan janganlah kamu ikut jejak langkah Syaitan; kerana Sesungguhnya Syaitan itu ialah musuh Yang terang nyata bagi kamu.
(Al-Baqarah : 168)
22. Dengan sebab itu dapatlah ia menjatuhkan mereka berdua (ke Dalam larangan) Dengan tipu dayanya. setelah mereka memakan (buah) pohon itu, terdedahlah kepada mereka berdua aurat masing-masing, dan mereka mulailah menutupnya Dengan daun-daun (dari) Syurga. serta Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pokok itu, dan Aku katakan kepada kamu, Bahawa Syaitan itu adalah musuh kamu Yang nyata?" (Al-A’araf : 22)
5. Bapanya berkata:" Wahai anakku! janganlah Engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, kerana Aku khuatir mereka akan menjalankan sesuatu rancangan jahat terhadapmu. Sesungguhnya Syaitan adalah musuh Yang nyata bagi manusia. (Yusuf : 5)
119. "Dan Demi sesungguhnya, Aku akan menyesatkan mereka (dari kebenaran), dan Demi Sesungguhnya Aku akan memperdayakan mereka Dengan angan-angan kosong, dan Demi Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka (mencacatkan binatang-binatang ternak), lalu mereka membelah telinga binatang-binatang itu; dan Aku akan menyuruh mereka mengubah ciptaan Allah". dan (ingatlah) sesiapa Yang mengambil Syaitan menjadi pemimpin Yang ditaati selain dari Allah, maka Sesungguhnya rugilah ia Dengan kerugian Yang terang nyata. (An-Nisa’ : 119)
142. Dan di antara binatang-binatang ternak itu, ada Yang dijadikan untuk pengangkutan, dan ada Yang untuk disembelih. makanlah dari apa Yang telah dikurniakan oleh Allah kepada kamu, dan janganlah kamu menurut jejak langkah Syaitan; kerana Sesungguhnya Syaitan itu musuh bagi kamu Yang terang nyata. (al-An’am : 142)
21. Wahai orang-orang Yang beriman, janganlah kamu menurut jejak langkah Syaitan; dan sesiapa Yang menurut jejak langkah Syaitan, maka Sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menyuruh (pengikut-pengikutnya) melakukan perkara Yang keji dan perbuatan Yang mungkar. dan kalaulah tidak kerana limpah kurnia Allah dan rahmatNya kepada kamu, nescaya tidak ada seorang pun di antara kamu menjadi bersih dari dosanya selama-lamanya; akan tetapi Allah membersihkan sesiapa Yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya); dan (ingatlah Allah Maha Mendengar) lagi Maha mengetahui (An-Nur : 21)
60. "Bukankah Aku telah perintahkan kamu Wahai anak-anak Adam, supaya kamu jangan menyembah Syaitan? Sesungguhnya ia musuh Yang nyata terhadap kamu! (Ya-sin :60)
- Syaitan merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah daripada unsur api, kedegilan makhluk ini diatas perintah Allah Taala supaya sujud kepada Nabi Adam kerana merasakan mereka lebih mulia daripada Adam yang dicipta daripada tanah, bermula saat itu syaitan memohon kepada Allah untuk menyesatkan umat manusia untuk bersama-sama mereka menghuni neraka Allah kelak.
- Sebagai dendamnya terhadap manusia, mereka mula menghasut Nabi Adam dan Hawa, sehingga melanggar perintah Allah dengan memakan buah khuldi dan dihukumkan keluar dari syurga serta dihantar ke dunia.
- Kerja menyesat dan memesong hidup manusia terus dijalankan oleh syaitan dan warganya tanpa mengenal putus asa, agar mereka dapat membawa seramai mungkin umat manusia bersama-sama mereka ke dalam neraka kelak.
- Pelbagai cara digunakan bagi menyesatkan manusia mengikut peringkat keimanan mereka, seandainya manusia itu mempunyai iman yang teguh syaitan yang berpangkat besar akan memainkan peranannya untuk menyesatkan manusia tersebut.
- Manusia yang terpengaruh dengan bisikan syaitan ini akan terhalang daripada memikirkan tentang kebesaran Allah. Mereka semata-mata inginkan keseronokan hidup di dunia sahaja.
CARA-CARA MENGATASI
1. Menuntut dan mendalami ilmu pengetahuan dalam bidang agama. Menguasai ilmu agama dengan mendalam serta mengamalkannya dalam kehidupan seharian.
2. Al-Insyirah ( الإنشرح ) , bersifat terbuka. Mengambil jalan untuk memikir dan mengkaji sesuatu perkara dan amalan adakah ianya bersesuain dengan fitrah Islam dan masyarakat. Iaitu tidak mengambil sesuatu amalan atau adat yang diturunkan secara tradisi daripada orang-orang terdahulu sebelum mengkajinya terlebih dahulu akan kedudukannya disisi Islam.
3. Hijrah dalam pemikiran atau anjakan paradigm yang selari dengan Islam. Agar segala hukum dan arahan serta tegah larangan Allah itu hendaklah dipatuhi, bukannya memilih bahawa ianya tidak selari dengan keadaan semasa dan masyarakat majmuk.
4. Mengamalkan sifat-sifat mahmudah (terpuji) dalam kehidupan seharian seperti jujur, amanah, ikhlas, tawadduk dan sebagainya, agar sikap-sikap negatif seperti sombong, ujub, riak, takabbur dapat dijauhi dari meresap ke dalam jiwa dan seterusnya menguasai pemikiran sehingga menjadikan jiwa kita jumud dan tepu untuk memikirkan kebenaran.
5. Mempertingkatkan amal dan ibadah yang sempurna kerana Allah, untuk Allah dan bagi Allah dengan mengharapkan rahmat dan kemapunanNya, bukannya untuk mencari ganjaran seperti pahala dan syurga semata-mata. Ini dapat mengelakkan bertunasnya sifat ujub, riak, dan hilangnya keikhlasan dalam beribadah.
6. Mengakui kekuasaan Allah S.W.T bahawa tiada yang berkuasa melainkan Allah sahaja. Mengkaji dan memikirkan kehebatan ciptaannya yang tak terbanding dengan kemampuan manusia.
KESIMPULAN
Berfikir merupakan satu proses untuk kita memperolehi maklumat dan ilmu pengetahuan.akal fikiran yang dikurniakan oleh Allah S.W.T wajib digunakan sebaik mungkin dalam menilai dan dan memahami sesuatu perkara. Tanpa memanfaatkan sepenuhnya ciptaan Allah ini, pastinya manusia itu akan berada dalam suatu kerugian yang teramat sangat.
Namun begitu proses berfikir ini akan terhalang disebabkan oleh diri manusia itu sendiri, pengaruh persekitaran dan juga peranan syaitan dalam usaha membawa seramai pengikut daripada kalangan manusia bersama mereka ke neraka kelak.
Jika dikaji melalui perbincangan sebelum ini terdapat 10 perkara yang menyumbang keoada halangan untuk manusia itu berfikir, boleh dikatakan 9 daripadanya berpunca daripada diri individu itu sendiri dan hanya 1 merupakan mainan syaitan.
Oleh itu peluang untuk manusia itu memperbaiki diri adalah amat cerah, iaitu berperang dengan diri sendiri dan mendidik nafsu untuk mentaati Allah. Cuma pada hakikat sebenarnya memerangi nafsu ini terlalu berat dan sukar berbanding memerangi musuh nyata di medan pertempuran. Oleh itu kekuatan Iman dan akal amat penting bagi membantu manusia memenangi pertempuran ini, untuk mencapai rahmat, keampunan dan keredhaan Allah s.W.t sebagainya di dunia dan di akhirat.
